Slam
Kusangkakan panas berpanjangan
Rupanya gerimis
Rupanya gerimis
Mengundang
ha ha ha
Dalam tak sader ku kebasahan
Pernah juga kau pinta perpisahan
Aku sangkakan
Itu hanyalah gurauan
ha ha ha
Nyata kau serius dalam senyuman
Bukan sekejap denganmu
Bukan mainan hasratku
Engkaupun tahu niatku
Tulus dan suci
Senang benar kau ucapkan
Kau anggap itu suratan
Sikitpun riak wajahmu
Tiada terkilan
Hanya aku separuh nyawa
Menahan sebak di dada
Sedangkan kau bersahaja
Berlalu tanpa kata
Terasa diri amat terhina
Kau lakukan
Sia sia ku korban selama ini
JIka kasihku jika hatiku kau guris
Dalam tak sedar ku menangis
Monday, March 7, 2011
Suci Dalam Debu
Iklim
Engkau bagai air yang jernih
Di dalam bekas yang berdebu
Zahirnya kotoran itu terlihat
Kesucian terlindung jua
Cinta bukan hanya di mata
Cinta hadir di dalam jiwa
Biarlah salah di mata mereka
Biar perbezaan terlihat antara kita
Kuharapkan kau kan terima
Walau dipandang hina
Namun hakikat cinta kita
Kita yang rasa
Suatu hari nanti
Pasti kan bercahaya
Pintu akan terbuka
Kita langkah bersama
Disitu kita lihat
Bersinarlah hakikat
Debu jadi permata
Kita jadi mulia
Bukan khayalan yang aku berikan
Tapi keyakinan yang nyata
Karena cinta lautan berapi
Pasti akan kurenang jua
Engkau bagai air yang jernih
Di dalam bekas yang berdebu
Zahirnya kotoran itu terlihat
Kesucian terlindung jua
Cinta bukan hanya di mata
Cinta hadir di dalam jiwa
Biarlah salah di mata mereka
Biar perbezaan terlihat antara kita
Kuharapkan kau kan terima
Walau dipandang hina
Namun hakikat cinta kita
Kita yang rasa
Suatu hari nanti
Pasti kan bercahaya
Pintu akan terbuka
Kita langkah bersama
Disitu kita lihat
Bersinarlah hakikat
Debu jadi permata
Kita jadi mulia
Bukan khayalan yang aku berikan
Tapi keyakinan yang nyata
Karena cinta lautan berapi
Pasti akan kurenang jua
Ingat Kamu
Vokal : Dina Mariana
Diam diam kau curi pandang
Di pintu sekolah
Kau tersenyum dan menggodaku
Aku tersipu mau
Kau kirimkan salam manismu
Lewat sahabatku
Sejak saat itu bila tak bertemu
Terbayang bayang wajahmu
Aku mandi
Ingat kamu
Aku makan
Ingat kamu
Aku mau tidur
Ingat kamu
Aku sedang belajar
Ingat kamu
Aku sedang berdandan
Ingat kamu
Aku sedang sendiri
Ingat kamu
Kau kirimkan surat cintamu
Lewat sahabatku
Kau katakan hanya diriku
Ada di hatimu
Satu hari bila tak jumpa
Kurindu padamu
Aku tak mengerti mengapa begini
Aku cinta padamu
Diam diam kau curi pandang
Di pintu sekolah
Kau tersenyum dan menggodaku
Aku tersipu mau
Kau kirimkan salam manismu
Lewat sahabatku
Sejak saat itu bila tak bertemu
Terbayang bayang wajahmu
Aku mandi
Ingat kamu
Aku makan
Ingat kamu
Aku mau tidur
Ingat kamu
Aku sedang belajar
Ingat kamu
Aku sedang berdandan
Ingat kamu
Aku sedang sendiri
Ingat kamu
Kau kirimkan surat cintamu
Lewat sahabatku
Kau katakan hanya diriku
Ada di hatimu
Satu hari bila tak jumpa
Kurindu padamu
Aku tak mengerti mengapa begini
Aku cinta padamu
Sunday, March 6, 2011
Seperti Yang Kau Ingini
Yonathan Prawira
Bukan dengan barang fana
Kau membayar dosaku
Dengan darah yang mahal
Tiada noda dan celah
Bukan dengan emas perak
Kau menebus diriku
Oleh segenap kasih dan pengorbananMu
Ku telah mati dan tinggalkan
Cara hidupku yang lama
Semuanya sia sia
Dan tak berarti lagi
Hidup ini kuletakkan
Pada mesbahMu ya Tuhan
Jadilah padaku seperti
Bukan dengan barang fana
Kau membayar dosaku
Dengan darah yang mahal
Tiada noda dan celah
Bukan dengan emas perak
Kau menebus diriku
Oleh segenap kasih dan pengorbananMu
Ku telah mati dan tinggalkan
Cara hidupku yang lama
Semuanya sia sia
Dan tak berarti lagi
Hidup ini kuletakkan
Pada mesbahMu ya Tuhan
Jadilah padaku seperti
Di Doa Ibuku
Di waktuku masih kecil
Gembira dan senang
Tiada duka kukenang
Tak kunjung menyerang
Di sore hari nan sepi
Ibuku bertelut
Sujud berdoa kudengar
Namaku disebut
Di doa ibuku
Namaku disebut
Di doa ibu ku dengar
Ada namaku disebut
Seringlah ini kukenang
Di masa yang berat.
Di kala hidup mendesah
Dan nyaris kusesat
Melintas gambar ibuku
Sewaktu bertelut
Kembali sayup kudengar.
Namaku disebut
Sekarang dia telah pergi
Ke Rumah yang senang
Namun kasihnya padaku
Selalu kukenang
Kelak di sana kamipun bersama bertemu
Memuji Tuhan yang benar
Namaku disebut
Gembira dan senang
Tiada duka kukenang
Tak kunjung menyerang
Di sore hari nan sepi
Ibuku bertelut
Sujud berdoa kudengar
Namaku disebut
Di doa ibuku
Namaku disebut
Di doa ibu ku dengar
Ada namaku disebut
Seringlah ini kukenang
Di masa yang berat.
Di kala hidup mendesah
Dan nyaris kusesat
Melintas gambar ibuku
Sewaktu bertelut
Kembali sayup kudengar.
Namaku disebut
Sekarang dia telah pergi
Ke Rumah yang senang
Namun kasihnya padaku
Selalu kukenang
Kelak di sana kamipun bersama bertemu
Memuji Tuhan yang benar
Namaku disebut
Subscribe to:
Posts (Atom)